Kurangnya akses kesempatan bekerja menjadi masalah bagi para profesional dengan disabilitas. Tak hanya sulit mendapatkan informasi lowongan kerja tapi juga terbatasnya lapangan pekerjaan khusus bagi mereka.
"Situs pencarian kerja yang ada, tidak dirancang ramah difabel. Bahkan penyandang disabilitas tertentu tidak bisa mengaksesnya," kata CEO dan founder Kerjabilitas Rubby Emir, ditemui di acara Google Launchpad Accelerator.
Mengutip data WHO, World Report on Disability 2011, dikatakan Rubby bahwa 15% populasi dunia adalah penyandang disabilitas. Sebanyak 35,6 juta ada di Indonesia, berdasarkan data BPS Sensus Penduduk pada 2010.
"Sebanyak 70% atau sekitar 24 juta merupakan usia bekerja. Hanya 7 juta atau 29,5% yang bekerja," papar Rubby.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, pria yang punya spesialisasi dalam pelatihan kemanusiaan, tergerak membuat perubahan. Muncul ide membuat Kerjabilitas, situs lowongan pekerjaan khusus disabilitas.
"Kami menghubungkan pencari kerja disabilitas dengan pekerjaan lewat daftar lowongan kerja yang diperbarui setiap hari," sebutnya.
Rubby mengklaim, fitur dan user experience Kerjabilitas didesain agar ramah difabel. Sejumlah fiturnya antara lain memungkinkan pengguna terhubung dengan sesama pengguna, dan mengundang pengguna baru untuk memperluas jejaring profesional mereka.
Kerjabilitas juga menyediakan kursus online. Konten-konten yang disajikan tersedia dalam beragam bentuk media, untuk meningkatkan pengetahuan karir para penyandang disabilitas.
Namun berdasarkan pengalamannya, Rubby merasa pendekatan online saja tidak cukup untuk mengatasi masalah pengangguran bagi penyandang disabilitas. Karenanya, Rubby bersama rekan satu timnya Tety Sianipar dan Alfian Firdaus, aktif mengkombinasikan layanan Kerjabilitas dengan program-program yang menyentuh masalah langsung di lapangan.
Upaya tersebut antara lain dilakukan Rubby dan timnya dengan memproduksi film dokumenter untuk peningkatan kesadaran isu disabilitas. Saat ini Kerjabilitas telah memproduksi 5 film dokumenter tentang disabilitas dan kisah inspiratif mereka.
Mereka juga memproduksi buku suara untuk peningkatan kesadaran dan penyebaran pengetahuan bagi tunanetra. Sejauh ini ada empat buku suara, baik bergenre sastra maupun buku bacaan populer.
"Kami juga mencoba menjangkau mereka lewat pameran bursa kerja. Dan tak kalah penting lagi adalah menjangkau komunitas lewat program Kelas Inspirasi ke Sekolah-sekolah luar biasa," sebut pria berambut gondrong ini.
Diluncurkan awal 2015, layanan milik startup yang berkantor pusat di Yogyakarta ini sekarang digunakan oleh lebih dari 1.500 pengguna yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
Kerjabilitas terpilih sebagai salah satu dari 8 startup potensial asal Indonesia yang masuk dalam program Google Launchpad Accelerator. Bersama tujuh startup lainnya, Rubby mendapatkan mentoring dari para ahli di markas besar Google di Mountain View, California, Amerika Serikat.
"Dari sana saya mendapat banyak masukan, antara lain bagaimana strategi untuk outreach, acquisition pengguna baru dan bagaimana me-monetize. Dalam satu tahun kita akan mencoba berbagai modernisasi," ujarnya.
Bertekad untuk terus melebarkan sayap dan mengembangkan layanan, Kerjabilitas menargetkan ada 3.800 tenaga kerja dengan disabilitas yang berhasil ditempatkan hingga 2020 nanti.
Jumat, 17 Juni 2016
LinkedIn Diakuisisi Microsoft dengan Mahar Fantastis, Rp 349 triliun!
Microsoft menyepakati pembelian jejaring sosial LinkedIn dengan mahar USD 26,2 miliar atau di kisaran Rp 349 triliun. Dikutip dari Reuters, ini adalah aksi akuisisi terbesar sepanjang sejarah Microsoft.
LinkedIn sendiri adalah jejaring sosial untuk kaum profesional yang sedang naik daun dan saat ini diperkirakan memiliki anggota sekitar 433 juta di seluruh dunia. Kabar pembelian oleh Microsoft ini membuat harga saham LinkedIn meningkat drastis sebesar 48%.
"Saya selalu memiliki kekaguman besar untuk LinkedIn," kata CEO Microsoft, Satya Nadella, mengomentari akuisisi ini. Ia mengaku sudah cukup lama berdiskusi mengenai niatnya membeli LinkedIn dengan sang chairman Reid Hoffman dan CEO Jeff Weiner.
Reid sendiri menyatakan sangat mendukung deal dengan Microsoft tersebut. Sedangkan Jeff Weiner akan tetap menjabat sebagai CEO LinkedIn dan nantinya ia melapor langsung pada Nadella.
"Tim LinkedIn telah menumbuhkan bisnis fantastis yang berpusat pada menghubungkan profesional di seluruh dunia. Bersama kita bisa mengakselerasi pertumbuhan LinkedIn, dan juga Microsoft Office 365 dan Dynamic sembari memberdayakan tiap orang dan organisasi di planet ini," lanjut Nadella.
Microsoft berencana menggeber monetisasi LinkedIn begitu proses akuisisi ini selesai, dengan strategi menumbuhkan pelanggan individual maupun organisasi serta melalui iklan. Proses akuisisi tersebut masih membutuhkan persetujuan dari regulator di Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada serta Brasil.
Uang sejumlah Rp 349 triliun itu akan dibayarkan Microsoft secara tunai. Proses akuisisi diperkirakan akan selesai menjelang akhir tahun 2016 ini.
LinkedIn sendiri adalah jejaring sosial untuk kaum profesional yang sedang naik daun dan saat ini diperkirakan memiliki anggota sekitar 433 juta di seluruh dunia. Kabar pembelian oleh Microsoft ini membuat harga saham LinkedIn meningkat drastis sebesar 48%.
"Saya selalu memiliki kekaguman besar untuk LinkedIn," kata CEO Microsoft, Satya Nadella, mengomentari akuisisi ini. Ia mengaku sudah cukup lama berdiskusi mengenai niatnya membeli LinkedIn dengan sang chairman Reid Hoffman dan CEO Jeff Weiner.
Reid sendiri menyatakan sangat mendukung deal dengan Microsoft tersebut. Sedangkan Jeff Weiner akan tetap menjabat sebagai CEO LinkedIn dan nantinya ia melapor langsung pada Nadella.
"Tim LinkedIn telah menumbuhkan bisnis fantastis yang berpusat pada menghubungkan profesional di seluruh dunia. Bersama kita bisa mengakselerasi pertumbuhan LinkedIn, dan juga Microsoft Office 365 dan Dynamic sembari memberdayakan tiap orang dan organisasi di planet ini," lanjut Nadella.
Microsoft berencana menggeber monetisasi LinkedIn begitu proses akuisisi ini selesai, dengan strategi menumbuhkan pelanggan individual maupun organisasi serta melalui iklan. Proses akuisisi tersebut masih membutuhkan persetujuan dari regulator di Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada serta Brasil.
Uang sejumlah Rp 349 triliun itu akan dibayarkan Microsoft secara tunai. Proses akuisisi diperkirakan akan selesai menjelang akhir tahun 2016 ini.
Langganan:
Postingan (Atom)