Selasa, 05 April 2016

Televisi Hong Kong Mengunakan Subtitle Bahasa Indonesia pada Beberapa Programnya

Stasiun televisi milik Pemerintah Hong Kong, RTHK mulai menggunakan "subtitle" Bahasa Indonesia pada beberapa program televisinya sejak Sabtu 2 April 2016.

"Penambahan subtitle Bahasa Indonesia merupakan upaya perusahaan penyiaran tersebut untuk lebih dapat menjangkau pemirsa dari kelompok minoritas, khususnya warga negara Indonesia (WNI) yang sebagian besar tidak dapat berbahasa Inggris," terang juru bicara RTHK, Rabu (6/4/2016).

Selain para WNI di Hongkong, teks terjemahan dalam Bahasa Indonesia itu kabarnya juga dapat dinikmati oleh sebagian besar warga negara Filipina yang mengerti Bahasa Indonesia.

"Kalau ternyata penambahan subtitle Bahasa Indonesia ini mendapat umpan balik yang positif secara rating dan finansial, maka bisa jadi saluran televisi (TV) lain juga akan meniru langkah kami," tambahnya.

Konsul Jenderal RI di Hong Kong Chalief Akbar berujar menyambut baik keputusan RTHK untuk menambahkan subtitle Bahasa Indonesia pada beberapa program.

"Ini merupakan yang pertama saya saksikan, stasiun televisi asing menambahkan subtitle Bahasa Indonesia. Ini tentu membanggakan. Dan diharapkan 170 ribu masyarakat Indonesia di Hong Kong semakin dapat memahami Hong Kong, begitu pun sebaliknya," tuturnya saat ditemui di Beijing.

Salah satu program acara yang sudah memakai subtitle Bahasa Indonesia adalah "Hong Kong Stories Challenges in the Wild", yang ditayangkan setiap Sabtu pada pukul 06.30-07.00 waktu setempat. Program tersebut bercerita tentang perjalanan menyusuri Hong Kong dengan cara di luar kebiasaan.

Program acara lain yang rencananya akan diberi subtitle Bahasa Indonesia adalah "Independent Travellers", yang dijadwalkan tayang setiap Senin pukul 19.00 ditambah program "Visits with Our Animal Neighbours".

Waktu yang Tepat untuk Mengecas Gadget

Baterai lithium-ion tak selalu cepat menyerap daya saat diisi. Ada kondisi tertentu yang memungkinkan listrik bisa lekas tersimpan, tepatnya ketika baterai sudah hampir kosong saat mulai diisi kembali.

Setidaknya itulah yang disebutkan oleh seorang teknisi bernama Mark Carlson dari Motorola.

"Secara umum, sebuah baterai bisa menerima charging rate yang lebih tinggi saat sisa kapasitas dayanya sudah rendah, ketimbang masih tinggi," ujar Carlson sebagaimana dirangkum dari Forbes, Senin (28/3/2016).

"Jadi, baterai yang sisanya tinggal 10 persen biasanya bisa lebih cepat diisi ketimbang saat sisa dayanya masih 50 persen," imbuh dia.

Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya sederhana saja. Baterai lithium-ion pada gadget modern dibekali mekanisme perlindungan terhadap overcharge alias kelebihan pengisian.

Mekanisme ini diterapkan dengan cara memperlambat kecepatan charging saat kapasitas yang terisi sudah melewati batas-batas tertentu supaya pengisian daya bisa lebih mudah dihentikan ketika baterai sudah menjelang penuh.

Biasanya, fenomena di atas bisa diamati ketika baterai sudah hampir full. Ketika kapasitas sudah berada di kisaran 90 persen, penambahan persentase bakal berlangsung lebih lambat ketimbang sebelumnya.

Tentu, kecepatan pengisian baterai bergantung pula pada faktor-faktor lain, seperti jenis smartphone dan kemampuan charger yang dipakai.

Sebuah ponsel dengan kapabilitas quick charge, misalnya, bakal kesulitan mengisi baterai dengan cepat apabila dipasangkan dengan charger yang tidak mendukung fitur serupa.

"Jadi, meskipun pengisian bisa lebih cepat saat sisa kapasitas baterai tinggal sedikit, hardware dan software di dalam sistem charging perlu mendukung juga," kata Carlson.