Tenggelamnya kapal Titanic menjadi salah satu tragedi bersejarah yang tak lekang termakan zaman. Setelah diangkat ke buku dan layar lebar, kisah tragis Titanic pun dibuatkan konsep untuk masuk dalam dunia game.
Adalah Titanic: Honor and Glory -- game first person action yang akan mengajak gamer untuk merasakan pengalaman berada di dalam kapal Titanic dan menjelajahi seluruh isi kapal tersebut. Kendati game dengan konsep serupa sudah pernah dijumpai di pasaran, namun tampaknya Titanic: Honor and Glory menawarkan tampilan grafis memukau.
"Kami ingin menciptakan sebuah game dimana nantinya gamer bisa merasakan pengalaman berada di dalam kapal, mulai dari berlayar hingga tenggelam. Selain menjelajah, gamer juga diharuskan mencari petunjuk untuk memecahkan sebuah misteri pembunuhan," ujar Tom Lynskey, Project Manager sekaligus Producer Titanic: Honor and Glory dalam sesi video dikutip dari Ubergizmo, Selasa (24/2/2015).
Gamer nantinya akan berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan dan mencari tahu kasus pembunuhan, hingga nantinya kapal akan benar-benar tenggelam.
Jadi nantinya gamer juga akan merasakan bagaimana detik-detik menjelang Titanic tenggelam, mulai dari getaran yang ditimbulkan akibat bertabrakan dengan gunung es hingga masuknya air laut ke lambung kapal.
"Sekalipun Anda tak tertarik dengan Titanic ataupun sejarah, game ini akan menjadi sebuah game yang menarik bagi para pecinta genre game action, baik pria maupun wanita, tua dan muda," papar Lynskey.
"Bayangkan Anda akan menjelajah dan melihat detil-detil isi kapal yang merepresentasikan Titanic di masa itu. Ini akan menarik," tambahnya.
Kendati sang developer memberikan sentuhan ciamik terhadap detil kapal, namun ada kalanya gamer merasa bosan dengan itu semua. Oleh karena itu, Indiegogo menghadirkan semua hal yang berkaitan dengan Titanic, mulai dari kru, penumpang, kapal lain yang berpapasan, hingga pelabuhan Southampton.
Saat ini game Titanic: Honor and Glory sedang dalam masa pencarian dana sebesar USD 250.000 melalui situs crowdfunding dan akan segera dirilis ketika dana tersebut sudah terpenuhi.
Sabtu, 28 Februari 2015
Seperti Apa Dunia, Jika Steve Jobs Tidak Pernah Lahir?
Steve Jobs, mereka yang akrab dengan dunia teknologi pasti tak asing dengan nama ini. Ya, dia adalah sosok penting di balik kesuksesan Apple.
Kini, meski Jobs sudah tiada sejak empat tahun silam, nama Jobs tak bisa dilupakan begitu saja. Bahkan Jobs masih kerap muncul di berbagai headline media teknologi, padahal ia sudah wafat pada tahun 2011 silam.
Sebegitu kuatkah efek Jobs? Ya, pesona pendiri Apple itu memang sulit dibandingkan. Alhasil, ketika yang bersangkutan telah tiada, namanya masih disebut di mana-mana. Hal ini pun sampai bikin orang penasaran, akan seperti apa dunia jika tanpa Steve Jobs?
Apple tidak akan ada! Ya, itulah yang paling mungkin terjadi jika Jobs tak pernah lahir ke dunia. Memang, sejarah mencatat bahwa Apple didirikan oleh Steve Jobs dan Steve Wozniak. Namun bukan bermaksud mengecilkan Wozniak, peran Jobs harus diakui lebih dominan di dalam kemunculan Apple.
Hal ini bisa dilihat pada film 'Jobs' yang diperankan oleh Ashton Kutcher, Jobs begitu antusias untuk meyakinkan Wozniak dan kejeniusannya agar membangun perusahaan sendiri.
Coba bayangkan, jika saat itu Wozniak tak mengenal Jobs -- ataupun sebaliknya -- yang pasti tak akan ada Apple yang artinya juga tak akan pernah ada Macintosh, iMac, iTunes, iPhone ataupun iPad.
Di industri musik dan film, Jobs juga punya peran yang tak kalah penting. Yakni lewat layanan iTunes yang mampu merevolusi industri musik sampai hari ini. Musik digital yang dibawa oleh iPod dan teman-temannya sukses menyingkirkan CD di bisnis musik.
Jobs juga merupakan salah satu pendiri Pixar. Ini merupakan perusahaan animasi yang diakuisisi Disney. Jobs pun pernah menduduki kursi Direksi Pixar. Kolaborasi Disney dan Pixar ini kemudian melahirkan film-film animasi populer seperti Toy Story, Monster Inc, Cars sampai Finding Nemo.
Banyak lagi sejatinya kontribusi Jobs di jagat teknologi yang tak bisa disebutkan satu per satu. Sayang, Jobs kini sudah menghadap ke Sang Pencipta. Jika masih hidup, sosok yang identik dengan jeans biru dan sepatu kets itu seharusnya hari ini genap berumur 60 tahun. Selamat ulang tahun, Jobs!
Bukalapak, E-commerce UKM Asli Indonesia Yang Kini Bernilai Triliunan
Pendiri perusahaan e-commerce lokal bagi-bagi tips sukses. Ia bercerita tentang suka-dukanya merintis usaha kecil dengan modal hanya nol rupiah hingga kini akhirnya berhasil menjadikannya perusahaan dengan nilai Rp 2 triliun.
Kisah sukses ini diceritakan oleh Achmad Zaky, founder sekaligus CEO Bukalapak.com saat memberikan kuliah umum tentang usaha kecil menengah (UKM) kepada para mahasiswa di Kampus ITB Bandung.
Bukalapak berawal dari sebuah proyekan yang dikerjakan oleh Zaky dan teman-teman kuliahnya, sehingga mereka terbiasa membuat bermacam-macam aplikasi sesuai pesanan klien.
Mereka punya keinginan untuk membuat sesuatu yang dibuat dari nol, kemudian dikembangkan dan dibangun satu demi satu, sampai menjadi besar dan megah seperti Bukalapak sekarang ini yang mendapat suntikan modal raksasa.
"Dimulai dengan modal nol rupiah, hanya dengan skill founder-nya, dan menjadi masa-masa penuh perjuangan. Sampai akhirnya mendapatkan pendanaan ratusan miliar tidaklah mudah. Jika divaluasi, Bukalapak sekarang bisa mencapai Rp 2 triliun," ujarnya.
Menurut Zaky, Bukalapak dimulai pada saat yang tepat. Pasar e-commerce di tahun 2010 masih terbuka luas, masih sangat sedikit pelaku bisnis yang bermain, sehingga perkembangannya cukup pesat.
Dari yang awalnya cuma dikunjungi oleh 10.000 visitors per hari, setahun berikutnya menjadi 50.000 pengunjung per hari, setahunnya lagi mendapatkan 200.000 pengunjung per hari hingga saat ini dikunjungi oleh 500.000 pengunjung per hari.
Zaky punya cita-cita ingin menjadikannya situsnya yang saat ini di peringkat 24 suatu saat menjadi e-commerce nomor satu di Indonesia. Bukan pekerjaan yang mudah, karena pesaingnya yang berada di 7 peringkat teratas di Indonesia berasal Silicon Valley, Amerika Serikat.
"Sebagai contoh di China, posisi pertama dan kedua dikuasai oleh website lokal China yaitu Baidu dan Alibaba. Website lokal Indonesia mempunyai peluang yang sama untuk menjadi nomor satu," kata Zaky.
Nugroho Herucahyono, CTO sekaligus founder Bukalapak lainnya, juga sangat mendukung langkah Zaky untuk menjadikan perusahaan e-commerce lokal itu sebagai wadah pemberdayaan UKM untuk mencapai tujuannya menjadi nomor satu.
"Apalagi banyak pelapak atau penjual yang menggantungkan penjualan produknya hanya di Bukalapak.com, sehingga banyak orang yang menggantungkan kelangsungan usahanya di situs kami," pungkas Nugroho.
Kisah sukses ini diceritakan oleh Achmad Zaky, founder sekaligus CEO Bukalapak.com saat memberikan kuliah umum tentang usaha kecil menengah (UKM) kepada para mahasiswa di Kampus ITB Bandung.
Bukalapak berawal dari sebuah proyekan yang dikerjakan oleh Zaky dan teman-teman kuliahnya, sehingga mereka terbiasa membuat bermacam-macam aplikasi sesuai pesanan klien.
Mereka punya keinginan untuk membuat sesuatu yang dibuat dari nol, kemudian dikembangkan dan dibangun satu demi satu, sampai menjadi besar dan megah seperti Bukalapak sekarang ini yang mendapat suntikan modal raksasa.
"Dimulai dengan modal nol rupiah, hanya dengan skill founder-nya, dan menjadi masa-masa penuh perjuangan. Sampai akhirnya mendapatkan pendanaan ratusan miliar tidaklah mudah. Jika divaluasi, Bukalapak sekarang bisa mencapai Rp 2 triliun," ujarnya.
Menurut Zaky, Bukalapak dimulai pada saat yang tepat. Pasar e-commerce di tahun 2010 masih terbuka luas, masih sangat sedikit pelaku bisnis yang bermain, sehingga perkembangannya cukup pesat.
Dari yang awalnya cuma dikunjungi oleh 10.000 visitors per hari, setahun berikutnya menjadi 50.000 pengunjung per hari, setahunnya lagi mendapatkan 200.000 pengunjung per hari hingga saat ini dikunjungi oleh 500.000 pengunjung per hari.
Zaky punya cita-cita ingin menjadikannya situsnya yang saat ini di peringkat 24 suatu saat menjadi e-commerce nomor satu di Indonesia. Bukan pekerjaan yang mudah, karena pesaingnya yang berada di 7 peringkat teratas di Indonesia berasal Silicon Valley, Amerika Serikat.
"Sebagai contoh di China, posisi pertama dan kedua dikuasai oleh website lokal China yaitu Baidu dan Alibaba. Website lokal Indonesia mempunyai peluang yang sama untuk menjadi nomor satu," kata Zaky.
Nugroho Herucahyono, CTO sekaligus founder Bukalapak lainnya, juga sangat mendukung langkah Zaky untuk menjadikan perusahaan e-commerce lokal itu sebagai wadah pemberdayaan UKM untuk mencapai tujuannya menjadi nomor satu.
"Apalagi banyak pelapak atau penjual yang menggantungkan penjualan produknya hanya di Bukalapak.com, sehingga banyak orang yang menggantungkan kelangsungan usahanya di situs kami," pungkas Nugroho.
Langganan:
Postingan (Atom)